Bahaya Anemia Defisiensi Zat Besi pada Anak


Asupan zat besi pada anak tidak terpenuhi secara optimal? Waspada anak terserang bahaya anemia defisiensi zat besi, Mums!

 

Sebelum remaja, anak-anak akan melalui proses tumbuh kembang, baik secara fisik dan pola pikir. Supaya pertumbuhan si Kecil berjalan optimal, sebagai orang tua, Mums pun bertugas memenuhi kebutuhan gizi yang diperlukan.

 

Salah satu jenis mineral untuk meningkatkan fungsi otot dan saraf yang wajib dipenuhi adalah zat besi. Di sisi lain, memberikan asupan zat besi yang cukup juga bisa mencegah anak dari anemia defisiensi zat besi. Apa itu anemia defisiensi zat besi?

 

Apa Itu Anemia Defisiensi Zat Besi?

Anemia defisiensi zat besi merupakan salah satu jenis penyakit yang terjadi akibat  kekurangan zat besi. Alhasil, jumlah sel darah merah yang ada dalam tubuh pun mengalami penurunan.

 

Bila sudah begini, hemoglobin dalam sel darah merah tidak dapat menjalankan perannya secara optimal. Hemoglobin sendiri dibutuhkan tubuh untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Tanpa pasokan oksigen yang cukup, seseorang yang menderita anemia defisiensi zat besi akan merasa lemas, mudah lelah, hingga sesak napas.

 

Baca juga: Pentingnya Zat Besi untuk Kehamilan dan Mencegah Anemia

 

Sementara itu, bagi anak-anak usia pra-sekolah dan sekolah yang menderita anemia defisiensi zat besi, akan mengalami penurunan konsentrasi belajar. Bila tak ditangani dengan segera, maka bisa berdampak pada prestasi mereka di sekolah.

 

Lalu, berapakah kadar hemoglobin normal yang diperlukan tubuh untuk menghindari anemia defisiensi zat besi? Untuk laki-laki dewasa, kadar hemoglobin normal yang dibutuhkan tubuh berkisar 14-18 g/dL dan  12-16 g/dL untuk perempuan dewasa. Sedangkan untuk anak-anak di bawah 6 tahun, kadar hemoglobin normal adalah di atas 9,3 g/dL.

 

Penyebab Anemia Defisiensi Zat Besi

Untuk mencegah si Kecil terserang anemia defisiensi zat besi, langkah pertama yang perlu Mums lakukan adalah mencari tahu faktor penyebab anemia defisiensi zat besi. Berikut beberapa faktor pemicu anemia defisiensi zat besi:

 

  1. Kurangnya asupan makanan yang mengandung zat besi

Sesuai dengan penjelasan sebelumnya, faktor utama yang menyebabkan anak menderita anemia defisiensi zat besi adalah kurang mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi, seperti hati ayam dan daging merah.

 

  1. Bayi lahir secara prematur

Bila si Kecil berada di bawah usia 1 tahun, ada kondisi tertentu yang mampu membuatnya bisa mengalami anemia, di antaranya lahir secara prematur, berat badan di bawah normal, lahir kembar, serta lahir dari ibu yang mengalami anemia selama periode kehamilan.

 

  1. Mengonsumsi ASI tanpa suplemen zat besi

Bagi bayi yang sudah menginjak usia 6 bulan, hanya mengonsumsi ASI tanpa suplemen zat besi pun berpotensi mengalami anemia. Pasalnya, ASI hanya memenuhi sekitar 0,3 mg dari 11 mg zat besi yang dibutuhkan bayi usia 6-12 bulan per harinya.

 

Baca juga: Mums, Ini Pentingnya Suplemen Zat Besi bagi Balita!

 

  1. Konsumsi susu formula berlebih

Oh iya Mums, biasakan untuk mencegah anak mengonsumsi susu formula secara berlebihan karena kandungan kalori dan lemaknya terbilang cukup besar dan dapat memicu obesitas. Kabar buruknya, obesitas menjadi salah satu faktor yang membuat anak kekurangan zat besi.

 

  1. Tubuh kehilangan kemampuan untuk menyerap zat besi

Ada beberapa sebab mengapa tubuh tidak bisa menyerap zat besi secara optimal hingga mengakibatkan anemia. Pertama, terjadi luka (ulkus) di area lambung atau mengidap kanker pada saluran pencernaan.

 

Selanjutnya, perhatikan apakah si Kecil mengonsumsi obat untuk mengurangi asam lambung dalam waktu yang lama. Pasalnya, obat tersebut bisa membuat tubuh kehilangan kemampuan menyerap zat besi. Faktor terakhir yang membuat tubuh tidak mampu menyerap zat besi dengan baik adalah melakukan operasi pengangkatan bagian usus tertentu.

 

  1. Kehilangan darah

Hati-hati ketika si Kecil mengalami perdarahan berupa mimisan dan perdarahan akibat kecelakaan. Pasalnya, perdarahan yang berlangsung dalam waktu lama bisa menyebabkan anemia. Bagi anak perempuan remaja, anemia juga bisa terjadi akibat menstruasi yang tak kunjung selesai.

 

Kenali Gejala Anemia Defisiensi Zat Besi pada Anak

Biasanya, anemia defisiensi zat besi pada anak terjadi secara bertahap. Mula-mula, kandungan zat besi pada tubuh anak berangsur-angsur turun, sehingga memengaruhi kinerja otak dan otot.

 

Seiring berjalannya waktu, produksi sel darah merah pada tubuh akan semakin sedikit. Pada tahap ini, anak-anak biasanya mulai merasakan beberapa gejala, seperti:

  1. Kulit terlihat pucat, terutama di area kuku, tangan, dan kelopak mata.
  2. Anak tampak murung dan lesu.
  3. Tubuh cepat lelah dan lemah ketika berolahraga.
  4. Kepala pusing dan berkunang-kunang.
  5. Jantung berdetak dengan cepat.
  6. Bila anemia defisiensi zat besi berada di tahap kronis, penderita akan mengalami pica, yakni keinginan untuk mengonsumsi objek yang bukan makanan, seperti debu, kotoran, kapur, dan serpihan cat.

 

Saat gejala di atas tampak pada si Kecil, ada baiknya Mums segera membawanya ke dokter untuk menjalani pemeriksaan lanjutan.

 
Baca juga: Beberapa Hal Penting yang Perlu Geng Sehat Ketahui tentang Anemia Sel Sabit

 

Tips Mengatasi Anemia Defisiensi Zat Besi pada Anak

Apabila si Kecil terserang anemia defisiensi zat besi, pastikan agar ia mengonsumsi suplemen yang mengandung zat besi sesuai anjuran dokter anak. Berdasarkan rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), batita (0-2 tahun) lebih diprioritaskan dalam pemberian suplemen zat besi secara teratur.

 

Sebagai penyeimbang, Musm juga bisa memasukkan makanan-makanan yang kaya akan zat besi dalam menu si Kecil. Berikut beberapa referensi makanan yang kaya akan zat besi untuk mengatasi anemia:

  • Daging merah tanpa lemak.
  • Serealia yang diperkaya zat besi.
  • Tahu.
  • Kuning telur.
  • Kismis.
  • Kacang-kacangan, contohnya kacang hijau, kacang merah, dan kacang hitam.
  • Sayuran berdaun hijau, misalnya bayam dan brokoli.
  • Makanan laut, seperti ikan, kerang, dan tiram.
  • Daging dan hati ayam.

 

Untuk membantu tubuh dapat menyerap zat besi secara optimal, Mums bisa memberikan asupan Vitamin C yang cukup, seperti menambahkan menu jus jeruk saat si Kecil sedang makan.

 

Suplemen Multivitamin untuk Mencegah Anemia Defisiensi Zat Besi

Apabila si Kecil mengalami penurunan nafsu makan, maka risiko terserang anemia defisiensi zat besi pun turut meningkat sebab kurangnya asupan zat besi, folat, dan sejumlah vitamin seperti B-12 serta vitamin C.

 

Nah, agar buah hati terhindar dari anemia defisiensi zat besi akibat nafsu makan menurun, Mums bisa memberikan suplemen multivitamin dan mineral penting seperti Burvita. Burvita mengandung 12 multivitamin dan 4 mineral penting yang mampu meningkatkan nafsu makan si Kecil.

 

Selain itu, kandungan gizi pada Burvita juga dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral pada anak selama proses tumbuh kembang. Untuk bayi berusia 6 bulan ke atas, Mums juga bisa memberikan Burvita bersama MPASI agar nutrisinya terpenuhi dan terhindar dari anemia defisiensi zat besi.

 

Demikian ulasan mengenai apa itu anemia defisiensi zat besi sampai bagaimana cara mencegahnya. Bila si Kecil terlanjur terserang anemia akibat kurang zat besi, segera lakukan pengobatan agar anemia tidak menjadi parah dan terhindar dari komplikasi, seperti masalah jantung dan tumbuh kembang anak.

 

Baca juga: Perlukah Suplemen Zat Besi untuk Bayi ASI?

 

Tinggalkan komentar