Dampak Malas Bergerak – Guesehat


 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 60 hingga 85% dari populasi di seluruh dunia tidak melakukan aktivitas fisik yang cukup. Membuat kurang beraktivitas fisik menjadi faktor risiko utama keempat penyebab untuk kematian. Dampak malas bergerak ini tidak ringan lho Gengs!

 

Di Indonesia kondisinya nyaris sama saja. Berdasarkan data Riskesdas 2018, jumlah rata-rata penduduk Indonesia yang kurang menjalani aktivitas fisik meningkat dari 26% pada tahun 2013 menjadi 33% pada tahun 2018. Artinya lebih dari sepertiga orang Indonesia tidak atau jarang beraktivitas fisik, alih-alih berolahraga! 

 

Kurangnya aktivitas fisik dapat mencetus berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, dan kanker. Apalagi, penyakit tidak menular merupakan 63% penyebab kematian di seluruh dunia dengan membunuh 36 juta jiwa per tahun.

 

 

Baca juga: Cara Mudah Enyahkan Sedentary Life, Terus Bergerak!

 

Dampak Malas bergerak

Gaya hidup minim aktivitas, malas bergerak, atau tidak aktif disebut sedentary life. Ini adalah gaya hidup saat seorang individu tidak melakukan aktivitas fisik secara teratur. Padahal, Centre for Disease Control (CDC) merekomendasikan seseorang harus melakukan aktivitas fisik minimal 150 menit berupa latihan moderat, atau 75 menit aktivitas yang lebih kuat, dalam seminggu.

 

Sebagian besar profesional kesehatan juga sepakat bahwa berjalan kaki 10.000 langkah sehari (sekitar 5 mil) adalah target ideal untuk meningkatkan kesehatan dan mengurangi risiko penyakit kronis kesehatan yang disebabkan oleh dampak malas bergerak.

 

Pada tahun 2005, James A. Levine, seorang spesialis obesitas di Mayo Clinic, memelopori penelitian tentang efek negatif dari gaya hidup tidak aktif dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Science Magazine. Kesimpulan Levine adalah bahwa duduk dalam waktu lama, seperti bekerja di belakang meja atau di belakang kemudi, bisa berbahaya.

 

Levine bahkan melabeli duduk terlalu lama sebagai penyakit di zaman modern. Menurut sebuah artikel yang dipublikasikan John Hopkins Medicine, malas bergerak telah terbukti berkontribusi terhadap kondisi kesehatan berikut:

  • Meningkatkan risiko kanker tertentu.

  • Berkontribusi pada kecemasan dan depresi.

  • Menjadi faktor risiko penyakit kardiovaskular.

  • Orang yang jarang bergerak cenderung memiliki penyakit jantung koroner.

  • Kelebihan berat badan atau obesitas.

  • Penurunan massa otot rangka.

  • Tekanan darah tinggi dan kadar kolesterol tinggi.

 

Di seluruh dunia, diperkirakan bahwa gaya hidup tidak aktif bertanggung jawab atas 6% kasus penyakit jantung koroner, 7% diabetes tipe 2, 10% kanker payudara, dan 10% kasus kanker usus besar. Bahkan, baru-baru ini dilaporkan bahwa malas bergerak bertanggung jawab atas lebih banyak kematian tdaripada merokok.

 

Baca juga: Agar Bermanfaat, Olahraga Mengenal Aturan. Yuk Cari Tahu Apa Saja!

 

 

Kampanye Ayo Indonesia Bergerak

Agar terhindar dari seluruh penyakit tersebut, disarankan Kamu melakukan olahraga aerobik selama 30 menit sehari, dan dilakukan secara rutin. Aktivitas fisik rutin dapat menangkal efek yang ditimbulkan oleh kurangnya aktivitas sepanjang hari. Kamu bisa memilik aktivitas jalan kaki, bersepeda, berenang. Ke gym atau berjalan 10.000 langkah sehari.

 

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI menuangkan kampanye untuk aktif bergerak sebagai salah satu poin aksi dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS. Semua pihak diharapkan juga melakukan gerakan serupa, termasuk swasta. Fakta masyarakat Indonesia yang malas bergerak ini membuat Fonterra melalui brand Anlene aktif mengkampanyekan gerakan ‘Ayo Indonesia Bergerak’ dan menggalakkan aksi dari pemerintah.

 

Kampanye ini dilakukan di berbagai kota. Pada 8 Desember lalu, kampanye Ayo Indonesia Bergerak dilakukan di Solo, Jawa Tengah. Acara terdiri dari senam bersama dan dilanjutkan cek kesehatan.

 

Rhesya Agustine, Marketing Manager Anlene, memaparkan, “Kami ingin mengajak masyarakat Jawa Tengah khususnya Solo untuk hidup aktif agar mencegah peningkatan risiko penyakit tidak menular, mulai dari yang masih muda sampai lanjut usia. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menginspirasi masyarakat Solo dari semua kalangan agar dapat tetap aktif bergerak semuda yang mereka rasakan demi tubuh yang sehat dan bahagia untuk diri sediri dan orang tersayang, ” jelasnya.

 

Salah satu tujuan gerakan ini adalah mengajak masyarakat Indonesia melawan gaya hidup tidak aktif atau sedentari dengan menjaga kesehatan tulang, sendi, dan otot. Dengan begitu akan tercipa masyarakat Indonesia yang lebih kuat, lebih sehat, dan bahagia.

 

Baca juga: Ini Dia 5 Manfaat Berolahraga bagi Lansia!

 

 

Referensi:

Siaran Pers Kegiatan “Ayo Indonesia Bergerak” si Solo, 8 Desember 2019, oleh PT Fonterra Brands Indonesia

Lifespanfitness.com. Health risk of sedentary lifestyle. 

Tinggalkan komentar