Dampak Sering Muntah pada Ibu Hamil


Informasi kesehatan ditinjau dan diedit oleh dr. William

Mual dan muntah merupakan reaksi normal yang dialami ibu hamil. Apalagi bila kehamilannya baru trimester pertama. Namun meskipun frekuensinya berbeda-beda bagi setiap ibu hamil, seperti apakah muntah berlebihan pada ibu hamil dan apakah dampaknya?

 

Sekilas tentang Hyperemesis Gravidarum

Ternyata bila ibu hamil terlalu sering muntah dan bahkan dalam jarak yang berdekatan, ini bukan pertanda baik. Pasalnya, bisa jadi ia mengalami hyperemesis gravidarum. Bahkan, masalah kesehatan ini bikin Mums harus menjalankan perawatan di rumah sakit!

 

Meskipun tidak umum, kondisi muntah berlebihan pada ibu hamil sangat serius. Ini lebih dari sekadar muntah-muntah biasa, yang dikenal dengan sebutan morning sickness. Jika Mums muntah terlalu sering sampai sudah tidak bisa makan lagi, segeralah temui dokter untuk penanganan medis lebih lanjut.

 

Baca juga: Cari Tahu Penyebab Mual Muntah dan Cara Mengatasinya

 

 

Perbedaan Morning Sickness dan Hyperemesis Gravidarum

Jika morning sickness biasanya hanya berlangsung sebentar dan frekuensinya berjarak, maka hyperemesis gravidarum bisa berlangsung pada minggu ke-5 hingga ke-10, lalu berhenti di minggu ke-20. Mums bisa muntah sebanyak 17 kali per hari selama kehamilan trimester pertama.

 

Beberapa gejala dan tanda hyperemesis gravidarum ialah:

  • Mual dan muntah terus-menerus.
  • Dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Dalam beberapa kasus, dehidrasi juga rentan menyebabkan penyempitan pembuluh darah.
  • Mengalami ketosis, yaitu saat senyawa keton meningkat dalam darah dan urine, sehingga berpotensi meracuni tubuh Mums dan janin di dalam kandungan.
  • Penurunan berat badan.
  • Mengalami hipotensi atau tekanan darah rendah saat berdiri.
  • Sakit kepala, mengalami disorientasi, pingsan, hingga penyakit kuning.

 

Bila kondisi ini segera ditangani dengan tepat, Mums tidak perlu khawatir dengan keselamatan janin dalam kandungan. Namun, muntah berlebihan dapat mengurangi asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk perkembangan janin. Akibatnya, bayi bisa terlahir dengan berat badan rendah.

 

Menurut dr. Michele Hakakha, ibu hamil yang masih muntah 17 kali sehari saat trimester kedua dan ketiga bisa berarti mengalami gangguan kesehatan lain, seperti keracunan makanan atau komplikasi medis tertentu.

 

Baca juga: Ini Tips Mudah Atasi Mual saat Liburan

 

Perawatan Khusus untuk Hyperemesis Gravidarum

Lalu, bagaimana perawatan khusus untuk ibu hamil dengan kondisi ini? Yang pasti, pertama Mums harus berkonsultasi dulu dengan dokter mengenai kondisi terkini Mums. Beberapa perawatan bisa berupa perubahan pola makan atau diet, istirahat teratur, atau konsumsi antasida. Ini biasanya untuk kasus muntah berlebihan yang masih dalam taraf ringan.

 

Bila kondisi Mums lebih parah, biasanya Mums harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Selama di sana, Mums harus diinfus dan mengonsumsi obat khusus untuk menurunkan kadar keton di dalam darah dan urine, agar tidak mengalami ketosis lagi. Selain itu, Mums juga diharuskan mengonsumsi obat untuk menghentikan muntah.

 

Baca juga: Masalah yang Bisa Dialami Ibu Hamil, Apa Aja Sih?

 

Yang pasti, Mums jangan nekat asal mengonsumsi obat apa pun sebelum berkonsultasi dengan dokter. Masalahnya, tidak hanya kesehatan Mums yang jadi taruhan, melainkan juga janin di dalam kandungan.

 

Jangan Panik Bila Ini Sampai Terjadi

Meskipun belum ada penjelasan ilmiah mengenai penyebab hyperemesis gravidarum, Mums tidak perlu terlalu panik bila mengalaminya. Kondisi ini dapat terjadi pada kehamilan pertama ataupun sesudahnya. Selain memastikan asupan gizi terpenuhi dan istirahat yang cukup, hindari makanan pemicu alergi. Lalu agar muntah-muntah tidak semakin parah, segera periksakan diri ke dokter. (AS)

 

Baca juga: Tips Mengatasi Mual dan Muntah Berlebihan pada Ibu Hamil

 

 

Sumber

Liputan6.com: Waspadai Mual dan Muntah Berlebihan Saat Hamil

Pregnancy, Birth and Baby: Severe vomiting during pregnancy (hyperemesis gravidarum)

Parents: Is it normal to vomit so much during pregnancy?

Tinggalkan komentar