Kontrol ke Dokter Kandungan Sebaiknya Berapa Kali?


Ah, senangnya akhirnya alat uji kehamilan menunjukkan garis dua. Selamat ya, Mums! Kini, saatnya melakukan usaha terbaik untuk menjaga kehamilan tetap sehat hingga persalinan. Salah satunya adalah dengan kontrol ke dokter kandungan. Namun, berapa kali ya, sebaiknya menjadwalkan kontrol ke dokter kandungan selama hamil? Dan, apakah ada efeknya jika tidak rutin kontrol ke dokter? Kita bahas di sini, yuk.

 

Pemeriksaan Kehamilan, Seberapa Penting?

Kehamilan adalah sebuah momen yang besar untuk tubuh. Semua sistem di tubuh Mums akan berubah untuk menunjang pertumbuhan janin di dalam rahim. Inilah kenapa, Mums membutuhkan antenatal care (ANC) agar bisa mengambil langkah yang tepat sejak hari pertama Mums mengetahui telah berbadan dua.

 

Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan oleh dokter spesialis kandungan atau bidan untuk mengoptimalkan kesehatan fisik dan mental ibu hamil. Menurut studi, calon ibu yang tidak melakukan pemeriksaan kehamilan, 3 kali lebih berisiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), serta meningkatkan angka kematian ibu saat persalinan. Tak hanya itu, pemeriksaan kehamilan menjadi sangat penting karena beberapa alasan, yaitu:

 

 

  • Mengurangi risiko komplikasi kehamilan

Beberapa faktor dapat membuat kehamilan berisiko tinggi, termasuk kondisi kesehatan Mums, usia Mums, gaya hidup, dan masalah kesehatan yang terjadi sebelum atau selama kehamilan.

 

Hal ini mencakup tekanan darah tinggi, diabetes, PCOS, penyakit tiroid, hingga obesitas. Jika dikontrol, kondisi ini paling tidak mencegah terjadinya komplikasi serius dan efeknya pada janin.

 

 

  • Pemberian suplemen tambahan untuk menunjang kehamilan

Anemia adalah masalah utama yang masih terjadi pada wanita hamil di seluruh dunia. Itulah kenapa, dokter kandungan akan memberikan informasi tentang pola makan kaya asam folat yang bisa ditemukan dalam makanan seperti sayuran hijau, beras merah, roti gandum, dan lain-lain.

 

Walau begitu, nyaris mustahil untuk mendapatkan asam folat yang cukup hanya dari makanan. Satu-satunya cara untuk memastikan Mums mendapatkan jumlah yang tepat, adalah dengan mengonsumsi suplemen berdasarkan rekomendasi dokter kandungan.

 

Selain berperan penting dalam produksi sel darah merah untuk mencegah anemia, mengonsumsi 400 mikrogram asam folat setiap hari di 12 minggu pertama kehamilan, teruji klinis dapat mengurangi risiko cacat tabung saraf hingga 70%.

 

Vitamin B9 ini diperlukan untuk perkembangan tabung saraf dan sumsum tulang bayi, serta pembentukan DNA saat janin berkembang. Kekurangan folat juga dapat mengganggu pembelahan sel normal dan pertumbuhan janin dan plasenta, yang menyebabkan kelainan kelahiran.

 

Jika seorang ibu hamil tidak mendapatkan cukup asam folat cukup sebelum dan selama kehamilan, bayi berisiko besar mengalami cacat tabung saraf yang serius, yang erat kaitannya dengan masalah otak dan sumsum tulang belakang.

 

Cacat tabung saraf sendiri meliputi:

  1. Anensefali: Janin kehilangan bagian otak dan tengkorak.
  2. Spina bifida: Kelainan tulang belakang, saraf, atau keduanya.

 

Kekurangan asam folat juga dapat menyebabkan berat badan lahir rendah pada bayi. Kondisi ini berisiko menimbulkan komplikasi kesehatan yang membahayakan nyawa bayi, seperti gangguan pernapasan, kadar gula darah rendah (hipoglikemia), gangguan makan, rentan terkena infeksi, dan terlalu banyak sel darah merah yang dapat menyebabkan pengentalan darah. Bayi dengan kondisi ini umumnya memerlukan perawatan khusus di ruang NICU (Neonatal Intensive Care Unit). 

 

Baca juga: Manfaat Telur Ayam Kampung untuk Ibu Hamil

 

Berapa Kali Kontrol ke Dokter Kandungan Diperlukan?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan setiap ibu hamil setidaknya memiliki 8 pemeriksaan kehamilan selama tiga trimester kehamilan. Sementara, jika ini bukan kehamilan pertama, sedikitnya Mums memeriksakan kehamilan sebanyak 7-9 kali, dengan catatan kehamilan Mums sehat dan tidak berisiko tinggi.

 

Namun ingat, jumlah tersebut hanyalah jumlah minimal. Jumlah kontrol ke dokter kandungan akan sangat mungkin berubah tergantung kerumitan kasusnya. Jika ya, dokter kandungan pastinya akan menambah jumlah janji temu dan Mums perlu menjalani lebih banyak tes serta pemindaian. Jumlah kontrol ke dokter kandungan  pasti akan bertambah pula jika Mums menghadapi masalah selama kehamilan berlangsung.

 

Baca juga: Membahagiakan Ibu Hamil? Mudah Kok, Dads!

 

Frekuensi kontrol ke dokter kandungan juga akan meningkat ketika Mums memasuki trimester akhir kehamilan. Pasahlnya, komplikasi kehamilan seperti pre-eklampsia akan muncul di saat ini. Masalah pertumbuhan bayi juga cenderung muncul di fase terakhir kehamilan, sehingga dibutuhkan pengukuran berat badan, ukuran perut, dan indikator pertumbuhan lainnya yang lebih sering pada trimester terakhir.

 

Perlu diketahui, prosedur antenatal care di Indonesia dikenal istilah rumus 10 T. Istilah tersebut muncul dalam rilis pers Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009. Pemeriksaan 10 T mencakup:

  1. Timbang berat badan setiap kali kunjungan dan dicatat.
  2. Ukur Tekanan darah, dengan kisaran normal 110/80–140/90 mmHg.
  3. Periksa tinggi fundus uteri (puncak rahim) untuk menentukan usia kehamilan.
  4. Skrining status imunisasi Tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT).
  5. Minum Tablet zat besi.
  6. Tetapkan status gizi dengan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Risiko si Kecil lahir dengan berat badan rendah meningkat apabila Mums kekurangan gizi saat hamil. 
  7. Tes laboratorium, yang meliputi golongan darah dan rhesus, pemeriksaan kadar hemoglobin, tes HIV dan penyakit menular seksual lainnya, penyakit sifilis, Hepatitis B, serta rapid test untuk malaria.
  8. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin, yang biasanya dilakukan saat usia kehamilan memasuki 16 minggu. Tujuan dari pemeriksaan janin dan denyut jantung janin adalah untuk memantau, mendeteksi, dan menghindari faktor risiko kematian pranatal yang disebabkan oleh infeksi, gangguan pertumbuhan, cacat bawaan, dan hipoksia.
  9. Tata laksana kasus. Apabila hasil tes menunjukkan bahwa kehamilan Mums berisiko tinggi, pihak rumah sakit akan menawarkan untuk segera mendapatkan tatalaksana kasus.
  10. Temu wicara persiapan rujukan dengan pihak dokter. Temu wicara ini dapat membantu menentukan perencanaan kehamilan, pencegahan komplikasi kehamilan, dan persalinan. Layanan temu wicara juga diperlukan untuk menyepakati rencana-rencana kelahiran, rujukan bila perlu, bimbingan pengasuhan bayi, dan pemakaian KB pasca-melahirkan. (AS)

 

Baca juga: Mengapa Kacang Atom Sebaiknya Tidak Dikonsumsi Ibu Hamil?

 

Sumber

What to Expect. Prenatal Appointments.

Pregnancy Birth Baby. Antenatal care During Pregnancy.

Archives of Public Health. Antenatal Care.

 

Tinggalkan komentar