Masalah Psikologis pada Anak – GueSehat.com


“Pa, kok kakak nakal sekali, ya?” Mungkin saat ini Mums dan Dads sedang pusing. Punya anak, tetapi nakalnya enggak ketulungan. Kalau tidak memecahkan barang, mengganggu adiknya sampai menangis. Pokoknya bikin keributan, deh. Belum lagi banyak keluhan dari guru sekolah maupun sesama orang tua murid yang anaknya juga jadi korban si Kecil. Namun, benarkah si Kecil nakal? Hmm, sebaiknya jangan langsung melabeli anak demikian. Ada 5 kondisi psikologis yang perlu dipahami untuk membantu mengatasi masalahnya!

 

1. Anxiety disorders (gangguan kecemasan)

Ah, masa sih si Kecil sudah menderita gangguan psikologis ini? Pada kenyataannya, hal ini bisa dialami oleh anak-anak. Bahkan, anak-anak juga punya beragam kecemasan yang sayangnya masih dianggap sepele oleh orang dewasa, bahkan orang tua mereka sendiri. Makanya, anak-anak terlihat ‘bertingkah’, meski sesungguhnya mereka membutuhkan bantuan dan dukungan.

 

Beberapa gejala gangguan kecemasan pada anak meliputi:

  • Menderita separation anxiety saat berpisah dengan orang tua, misalnya saat ayah ke kantor, saat harus sekolah, hingga acara menginap di rumah teman.
  • Terpicu oleh fobia (ketakutan ekstrem) akan sesuatu, seperti takut pada hewan tertentu atau saat harus ke dokter.
  • Menderita social anxiety, sehingga takut berada di tengah keramaian, di sekolah misalnya.
  • Punya bermacam rasa khawatir atau ketakutan, seperti terlalu khawatir bahwa hal-hal buruk akan terjadi.
  • Kadang gejalanya juga disertai gejala-gejala fisik, seperti jantung berdebar-debar, sesak napas, pusing, gemetar, hingga berkeringat.

 

Tidak hanya itu, anak dengan gejala gangguan kecemasan juga cenderung mudah marah dan bersikap kasar.

 

2. Depresi

Merasa sedih dan putus asa juga menjadi bagian normal dari emosi seorang anak. Namun, bila 2 perasaan negatif ini berlarut-larut hingga si Kecil kehilangan minat untuk melakukan apa pun, segeralah memeriksakannya ke dokter karena anak pun bisa depresi.

 

Beberapa gejala depresi yang diderita anak termasuk:

  • Merasa sedih dan putus asa berkepanjangan.
  • Kehilangan minat pada hal-hal yang dulu disukainya. Misalnya, menonton acara kartun favorit, mainan, hingga jalan-jalan.
  • Mengalami gangguan makan dan tidur. Misalnya, makan terlalu banyak/sedikit hingga tidak mau makan sama sekali. Untuk tidur, anak bisa terserang insomnia hingga tidur berlebihan.
  • Selalu terlihat kelelahan dan tidak aktif seperti anak-anak seumurnya.
  • Sulit berkonsentrasi terhadap segala sesuatu.
  • Sering merasa tidak berharga, tidak berguna, dan bersalah.
  • Suka menghancurkan barang dan menyakiti diri sendiri.

 

Daripada langsung memarahi si Kecil, sebaiknya bawa dia langsung ke dokter. Masalahnya, anak penderita depresi berusia 10 tahun ke atas bisa mencoba bunuh diri. Meskipun tidak terlihat sedih, ada juga anak-anak dengan depresi yang berulah dan memancing keributan, sehingga sering dikira anak nakal.

 

3. ADHD – Attention Deficit and Hyperactivity Disorders (gangguan masalah fokus dan hiperaktivitas)

Meskipun kondisi psikologis ini sudah cukup dikenal, gejala awalnya tidak langsung terdeteksi. Anak dengan ADHD biasanya jauh lebih aktif daripada anak-anak lainnya, hingga sampai pada taraf mengganggu sesama. Anak dengan kondisi ini juga kesulitan berkonsentrasi dan mengendalikan diri, sehingga sering bertingkah tanpa memikirkan akibatnya.

 

4. Autisme

Dikenal juga dengan sebutan gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder), autisme adalah gangguan perkembangan komunikasi dan interaksi sosial anak. Dalam 10 tahun terakhir, ada peningkatan besar dalam upaya untuk mengidentifikasi penyebab gangguan ini.

 

Anak dengan autisme sering disangka tidak tahu sopan santun karena tidak selalu menyahut maupun menatap lawan bicara saat dipanggil. Dengan terapi yang tepat, masalah ini dapat diminimalisasi.

 

5. ODD – Oppositional Defiant Disorders (gangguan perilaku berupa kebiasaan membangkang).

Ketika anak terus bertingkah hingga menyebabkan masalah serius di rumah, di sekolah, atau dengan teman sebaya, kemungkinan besar anak menderita Oppositional Defiant Disorder (ODD).

 

ODD biasanya dimulai sebelum usia delapan tahun, tetapi paling lambat sekitar 12 tahun. Anak-anak dengan ODD lebih cenderung bertindak menentang atau menantang di sekitar orang yang mereka kenal dengan baik, seperti anggota keluarga atau guru. Anak-anak dengan ODD menunjukkan perilaku ini lebih sering daripada anak-anak lain seusia mereka.

 

Inilah 5 kondisi psikologis yang harus dipahami sebelum melabeli si kecil sebagai anak nakal. Semoga anak mendapatkan perawatan yang tepat dan selalu sehat ya, Mums. (AS)

 

Sumber:

https://www.cdc.gov/childrensmentalhealth/symptoms.html

The 5 Most Common Mental Disorders in Children

11 Simple Signs a Child May Have a Psychiatric Disorder

Tinggalkan komentar