Mendidik anak menjadi penemu – Guesehat


Kira-kira apa ya bakat si Kecil? Apakah Mums suka bingung sendiri? Jangan khawatir Mums, jika si Kecil suka bereksplorasi bisa saja ia berbakat menjadi ilmuwan kelak. Bagaimana sih mendidik anak jadi penemu Ikuti tips dari para pakar berikut ya!

 

Laporan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) 2018 menyebutkan, 65% anak yang sekarang duduk di bangku SD, nantinya akan bekerja di bidang yang hari ini bahkan belum ada. Jadi Mums, pekerjaan konvensional seperti dokter, guru, tentara bukan lagi menjadi pekerjaan yang akan ditekuni si Kecil kelak.

 

“Selain itu hanya 35% pekerjaan yang masih tersisa. Yang 65% dituntut untuk jadi pencipta kerja, bukan pencari kerja,” ungkap Indra Charismiadji, Pengamat dan Praktisi Pendidikan dan Sains, dalam diskusi bertajuk “Sains Digital Dari dan Untuk Anak Indonesia”, di Jakarta, Jumat (6/9). Acara ini diselenggarakan PT Kalbe Farma Tbk, untuk mendukung program Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2019..

 

Nah agar anak kita punya masa depan cemerlang, sudah saatnya mengubah pola pikir orang tua tentang pendidikan. Kemampuan anak berpikir kreatif harus didukung dan diasah, agar kelak anak bisa menemukan sesuatu yang berguna bagi sesama. Bagaimana caranya? 

 

Baca juga: Kasih Sayang Ayah, Penentu Kecerdasan Anak

 

Dorong Anak Menjadi Pencipta Teknologi, Bukan Hanya Pengguna

Selama ini, masyarakat Indonesia lebih banyak menjadi konsumen teknologi, belum menjadi inovator atau pencipta. Contoh sederhana pada anak-anak yang suka sekali bermain gadget. Gadget misalnya, masih lebih banyak digunakan untuk bermain ketimbang untuk belajar atau berinovasi.

 

Dijelaskan Indra Charismiadji, yang disebut inovasi tidak harus menciptakan sesuatu yang betul-betul baru dan belum pernah diciptakan sebelumnya. “Contohnya ojek. Sejak dulu sudah ada. Tapi kini ada ojek online yang bisa dianggap sebagai sebuah inovasi. Yang berubah hanya cara memanggil ojek,” terang Indra.

 

Nah bagaimana mendorong anak menjadi seorang penemu cilik? Pada dasarnya, anak bisa diarahkan untuk menjadi inovator. “Bangkitkan rasa ingin tahunya, dan keinginannya untuk memecahkan masalah. Beri mereka tantangan,” tandas Indra.

 

Misalnya anak suka bermain game, ini bisa menjadi pintu masuk Mums. Beri tantangan untuk membuat game sederhana seperti yang dimainkannya. Dengan tantangan, bisa muncul rasa ingin tahu. Apalagi saat ini sudah ada aplikasi “koding” yang sederhana untuk anak, misalnya Scratch.

 

Aplikasi Scratch ini juga yang menjadikan Muhammad Hafizh Bayhaqi (12 tahun), bisa mengembangkan berbagai aplikasi digital. Di saat anak seusianya masih asyik bermain, Hafizh sudah bisa membuat tiga aplikasi digital lho!

 

Awalnya Hafizh menciptakan game berhitung Quiz Matematika, yang kemudian dikembangkan menjadi Good Math. Kemudian ia juga menciptakan Puzzle Kartini, dan kini Hafizh juga menciptakan Pintar Online, platform e-learning untuk website sekolah. Sudah 80 sekolah yang menggunakan aplikasi Hafizh ini.

 

“Aku suka matematika, tapi banyak anak nggak suka. Jadi aku bikin aplikasi yang menyenangkan supaya mereka senang belajar,” ujar Hafizh, yang memutuskan untuk home schooling sejak kelas 3 SD agar bisa mendalami ilmu koding. Ia dibimbing ayahnya yang rela berhenti bekerja sebagai guru matematika agar bisa mendampingi Hafizh dan adiknya belajar koding.

 

Baca juga: Tantangan Mengasuh Anak Generasi Alfa

 

Jangan Batasi Kreativitas Anak

Indra menjelaskan, kadang orang tua lah yang menghambat anak untuk berinovasi. Kreativitas adalah bagian penting dalam inovasi. Maka bebaskan anak berkreasi sesuai keinginan dia.  Misalnya saat menggambar, biarkan saja anak menggambar dan mewarnai sesuka hatinya. Awan berwarna hijau misalnya, tidak perlu disalahkan dan harus diganti putih.

 

“Ada empat kecakapan abad 21 yang harus dimiliki anak-anak di masa depan yaitu berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan kreatif. Biasanya begitu kita mengenal konsep sekolah formal, kita mulai berpikir seragam. Bahkan anak-anak Indonesia menggambar hal yang sama,”sesal Indra yang menyayangkan, orang tua kerap berilusi bisa mengontrol dan membatasi ruang gerak anak. Akhirnya kreativitas anak akan mati. 

 

Pre Agusta, Direktur R&D Kalbe Group menambahkan, sebenarnya banyak anak Indonesia yang berbakat jadi ilmuwan. Buktinya selama 8 kali diselenggarakan sejak 2011, sudah banyak sekali inovasi yang diciptakan anak-anak usia SD. Misalnya sajadah digital yang bisa mengingatkan jumlah rakaat sholat, atau alat untuk mendeteksi popok bayi yang sudah penuh.

 

Tahun ini, tambah Pre, KJSA mencoba memperbanyak temuan di bidang digital. “Kita ingin mendorong kesenangan dan potensi anak untuk berinovasi. Tidak harus canggih sekali, yang penting cara berpikirnya,” imbuh Pre.

 

Nah para orang tua mulai sekarang biarkan anak-anak kita berkreasi ya! Dukung dan beri tantangan dengan cara yang menyenangkan. Jangan lupa asah terus rasa ingin tahunya agar ia terbiasa berpikir kreatif dan kelak bisa menjadi seorang penemu!

 

Baca juga: Anak Terlalu Dikendalikan Orang Tua, Ini Dampaknya!

 

 

Tinggalkan komentar