Obat-obat Gangguan Pencernaan – GueSehat.com


Masalah di saluran pencernaan adalah salah satu gangguan kesehatan yang menurut saya paling tidak enak. Pasalnya, gejala mual, nyeri ulu hati, perut melilit, diare, hingga konstipasi sangat membuat tidak nyaman dan berpengaruh pada asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Terkadang, hal-hal tersebut membuat makanan dan minuman menjadi kurang nikmat, bahkan harus dibatasi.

 

Gangguan sistem pencernaan sendiri memang cukup sering terjadi. Setidaknya demikianlah yang saya amati dari kasus-kasus yang ada di rumah sakit tempat saya bekerja. Masalah pencernaan yang paling sering dikeluhkan pasien antara lain berhubungan dengan produksi asam lambung serta infeksi di saluran pencernaan karena kurang menjaga kebersihan.

 

Dalam mengatasi masalah pencernaan, terkadang kita membutuhkan obat-obatan sebagai ‘pertolongan pertama’. Nah, berikut ini adalah daftar obat-obatan yang dapat dibeli tanpa resep dokter (over the counter/OTC) untuk mengatasi gejala-gejala gangguan pencernaan.

 

Obat-obatan di bawah ini memiliki izin edar sebagai obat bebas atau obat bebas terbatas, sehingga dapat dibeli tanpa resep dokter. Namun ingat ya Gengs, jika gejala tidak pulih setelah mengonsumsi obat-obatan ini, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter!

 

1. Obat untuk Diare

Diare adalah salah satu masalah pencernaan yang membuat feses menjadi tidak padat, bahkan cenderung cair seutuhnya seperti air. Diare akut biasanya berlangsung 2 hingga 3 hari. Attapulgite, karbon aktif (activated carbon), dan diosmectite adalah 3 jenis obat bebas yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi diare.

 

Ketiga obat ini memiliki cara kerja yang kurang lebih sama, yakni menyerap racun dan kelebihan air di saluran pencernaan, sehingga membuat feses yang keluar menjadi lebih padat. Karena bersifat sebagai penyerap, sebaiknya konsumsi obat-obatan jenis ini selang 2 jam dari obat-obat lainnya. Sebab jika dikonsumsi bersamaan, ada kemungkinan obat lain yang dikonsumsi menjadi berkurang efektivitasnya.

 

Hal lain yang harus diperhatikan jika mengalami diare adalah kemungkinan terjadinya dehidrasi. Pasalnya, tubuh kehilangan air dalam jumlah banyak saat buang air besar. Untuk mengatasi hal ini, tersedia pula larutan rehidrasi oral alias oralit yang dapat dibeli bebas. Larutan ini mengandung elektrolit-elektrolit penting untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang.

 

Baca juga: Penyebab dan Cara Mencegah Diare

 

2. Obat untuk Konstipasi

Kebalikan dari diare, jika mengalami konstipasi frekuensi buang air besar jadi lebih jarang dari biasanya ataupun ditemui adanya kesulitan dalam mengeluarkan massa feses. Konstipasi biasanya membaik dengan mengonsumsi asupan gizi yang tinggi serat serta cairan dalam jumlah cukup. Beberapa buah-buahan dapat menjadi pilihan untuk membantu mencegah dan mengatasi konstipasi.

 

Namun jika diet belum bisa membantu mengatasi konstipasi, dapat mengonsumsi obat pencahar atau laksatif. Dua jenis obat pencahar yang dapat dibeli bebas adalah bisacodyl dan laktulosa dalam berbagai merek dagang.

 

Bisacodyl bekerja menstimulasi gerakan usus besar agar massa feses lebih cepat turun ke anus. Jadi, wajar jika setelah mengonsumsi obat muncul rasa mulas. Bisacodyl sendiri tersedia dalam bentuk tablet dan supositoria (dimasukkan ke dalam anus).

 

Sedangkan laktulosa adalah obat pencahar yang bekerja membuat feses menjadi lebih lunak, sehingga akhirnya menjadi lebih mudah dikeluarkan. Penggunaan laktulosa harus dibarengi dengan konsumsi cairan dalam jumlah yang adekuat untuk meningkatkan efektivitas kerjanya. Laktulosa tersedia dalam bentuk sirup.

 

3. Obat untuk Maag

Maag atau heartburn adalah suatu kondisi gangguan saluran pencernaan yang ditandai rasa perih, begah, serta rasa terbakar di lambung hingga kerongkongan. Hal ini biasanya terjadi karena adanya peningkatan produksi asam lambung, yang kemudian mengiritasi saluran pencernaan.

 

Antasid adalah obat bebas yang dapat mengatasi hal ini dengan cepat. Antasid bekerja menetralkan asam lambung. Antasid yang dijual di pasaran Indonesia kebanyakan berisi kombinasi magnesium hidroksida, alumunimun hidroksida, dan simetikon. Bentuknya biasanya adalah tablet kunyah ataupun sirup.

 

Selain antasid, omeprazole juga dapat menjadi pilihan. Omeprazole bekerja ‘mengunci’ pompa proton yang menghasilkan asam lambung. Omeprazole secara registrasinya memang termasuk ke dalam golongan obat keras yang memerlukan resep dokter.

 

Namun menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. 924 Tahun 1993, omeprazole termasuk ke dalam Daftar Obat Wajib Apotek (DOWA) Nomor 2, sehingga bisa diberikan oleh apoteker di apotek tanpa resep, dengan maksimal pemberian 7 tablet saja.

 

Baca juga: Cara Mengatasi Penyakit Maag

 

4. Obat untuk Mual

Sejatinya, hingga saat ini tidak ada obat mual yang dapat dibeli tanpa resep karena semuanya merupakan golongan obat keras. Namun, salah satu obat mual yakni metoklopramid, juga termasuk dalam Daftar Obat Wajib Apotek berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 347 Tahun 1990. Maksimal jumlah tablet metoklopramid yang dapat diberikan oleh apoteker di apotek tanpa resep dokter adalah 20 tablet.

 

Baca Aturan Penggunaan yang Disarankan

Salah satu hal terpenting dalam mengonsumsi obat bebas adalah mengikuti aturan dan cara penggunaan yang disarankan oleh pembuat obat. Hal ini biasanya tercantum di kemasan obat.

 

Jadi bukan berarti konsumsi obat bebas ini dapat dilakukan semaunya ya, Gengs! Jika konsumsi dilakukan tanpa mengindahkan aturan yang disarankan, bukan tidak mungkin Geng Sehat malah akan mengalami efek samping yang tidak diinginkan.

 

Cek juga tanggal kedaluwarsa yang tertera di kemasan sebelum membeli obat bebas ya, Gengs. Untuk obat wajib apotek, seperti omeprazole dan metoklopramid, tanyakan kepada apoteker mengenai dosis penggunaan yang dianjurkan.

 

Baca juga: Gangguan Asam Lambung Akibat Pola Hidup Tidak Sehat

 

Jika gejala yang dialami tidak membaik setelah 2 atau 3 hari penggunaan obat bebas, sangat disarankan agar Geng Sehat segera melakukan konsultasi ke dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mencari tahu kemungkinan adanya penyakit yang membutuhkan intervensi lanjutan. Salam sehat! (AS)

Tinggalkan komentar