Obat-obatan untuk Menangani Depresi – GueSehat.com


Kabar dukacita datang dari dunia hiburan Korea Selatan. Sulli, mantan anggota girlband f(x), ditemukan meninggal di rumahnya. Sulli diduga melakukan tindakan bunuh diri, yang merupakan manifestasi dari kondisi depresi berat yang ia alami.

 

Sulli bukanlah satu-satunya public figure yang diketahui meninggal karena bunuh diri akibat depresi. Komedian Robin Williams, penyanyi Chester Bennington, dan Kim Jonghyun dari boyband SHINee juga meninggal dengan alasan yang sama.

 

Depresi adalah suatu kondisi kesehatan yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Menurut World Health Organization (WHO), depresi dialami oleh lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia dari semua kelompok usia.

 

Pada kondisi terburuk, depresi memang dapat berujung pada munculnya keinginan bunuh diri. Kematian karena bunuh diri bahkan diklaim oleh WHO sebagai penyebab kematian terbesar pada kelompok usia 15 hingga 29 tahun.

 

Depresi sedang dan berat ditangani dengan penggunaan obat-obatan

Karena depresi merupakan suatu masalah kesehatan, maka salah satu cara penanganan depresi adalah dengan menggunakan terapi obat. Obat-obatan yang digunakan untuk menangani depresi disebut juga dengan antidepresan.

 

Antidepresan sendiri hanya dapat digunakan pada kasus depresi sedang (moderate) dan berat (severe). Ini tidak dianjurkan untuk digunakan pada kondisi depresi ringan (mild). Antidepresan tidak dapat menyembuhkan, tetapi dapat mengontrol gejala.

 

Baca juga: Belajar dari Kasus Sulli, Begini Cara Mengatasi Cyberbullying

 

 

Golongan obat antidepresan yang umum digunakan

Ada bermacam-macam obat antidepresan. Perbedaan utama terletak dari cara kerja antidepresan tersebut serta profil efek samping yang menyertai tiap-tiap obat. Mekanisme pasti cara kerja antidepresan hingga saat ini belum diketahui secara rinci. Namun, secara garis besar obat-obatan ini bekerja pada neurotransmitter alias molekul kimiawi yang berada di otak, terutama serotonin dan noradrenaline. Neutotransmitter ini erat kaitannya dengan mood dan emosi.

 

Semua antidepresan adalah sediaan oral alias diminum, biasanya satu hingga dua kali sehari. Golongan pertama adalah selective serotonin reuptake inhibitors atau SSRI. Golongan ini adalah antidepresan yang paling sering diresepkan oleh psikiater, termasuk di Indonesia.

 

Golongan SSRI menjadi pilihan utama dalam menangani depresi karena efek sampingnya yang terbilang relatif rendah dibanding golongan antidepresan lainnya. Contoh antidepresan golongan SSRI adalah fluoxetine, escitalopram, dan sertraline.

 

Golongan berikutnya adalah serotonin-noradrenaline reuptake inhibitors (SNRI). Obat golongan SNRI contohnya duloxetine dan venlafaxine. Golongan obat antidepresan lain yang sering digunakan adalah tricyclic antidepressants atau TCA. Obat golongan ini adalah salah satu antidepresan yang paling awal ditemukan, tetapi saat ini kurang menjadi pilihan pertama karena efek samping yang lebih besar daripada golongan SSRI dan SNRI, serta adanya kemungkinan bahaya jika dikonsumsi secara berlebihan (overdosis). Contoh obat golongan ini adalah amitriptilin. Selain sebagai antidepresan, amitriptilin pada dosis yang lebih rendah juga digunakan untuk mengatasi nyeri saraf kronis.

 

Baca juga: Sulli Eks f(x) Tewas Bunuh Diri, Kenali Penyebab Bunuh Diri di Usia Muda!

 

Mula kerja dan efek samping antidepresan

Sebagai apoteker, ada beberapa hal yang biasanya saya informasikan kepada pasien yang sedang menggunakan obat antidepresan. Yang pertama adalah bahwa konsumsi antidepresan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu hingga efeknya dalam mengendalikan mood terasa.

 

Hal ini wajib diketahui pasien karena beberapa pasien menolak pengobatan dengan alasan obatnya tidak memberikan efek. Padahal, hal tersebut karena memang obat belum memasuki masa kerja maksimalnya. Namun jika efek obat belum terasa hingga 4 minggu setelah awal pemberian, dokter biasanya akan mengganti dengan obat golongan lain atau meningkatkan dosis obat.

 

Yang kedua adalah mengenai efek samping obat. Obat antidepresan golongan SSRI memiliki efek samping antara lain mual, ketidaknyamanan di saluran cerna, nyeri kepala, disfungsi seksual, dan kecemasan (anxiety). Sedangkan untuk antidepresan golongan TCA, memiliki efek samping mengantuk, mulut kering, konstipasi, susah buang air kecil, dan jantung berdebar.

 

Baca juga: Diduga Diet Vegetarian Menyebabkan Depresi

 

Efek-efek ini membuat pasien menjadi enggan mengonsumsi obat. Faktanya, efek samping ini tidak akan selamanya terjadi, melainkan perlahan-lahan menghilang seiring tubuh terbiasa dengan kehadiran obat tersebut.

 

Obat antidepresan sifatnya sangat individual. Ada pasien yang merasa cocok dengan golongan SSRI, sementara pasien lainnya merasa lebih nyaman menggunakan golongan TCA. Hal ini juga selalu saya infokan kepada pasien, agar mereka tidak merasa putus asa karena obatnya tidak bekerja. Jadi, mereka mau terus berkonsultasi dengan psikiater yang mendampingi untuk menemukan formula terbaik bagi dirinya.

 

Geng Sehat, itulah dia sekilas informasi mengenai obat antidepresan yang digunakan dalam penanganan depresi sedang dan berat. Patut diingat bahwa obat-obatan ini hanya dapat diberikan oleh dokter yang ahli di bidang kejiwaan alias psikiater.

 

Pergi ke psikiater dan mengonsumsi obat-obatan antidepresan sama sekali bukanlah hal yang tabu. Pasalnya, depresi adalah suatu kondisi kesehatan yang memang membutuhkan terapi, sama halnya dengan penyakit lain, seperti infeksi, diabetes melitus, hipertensi, dan lain-lain.

 

Obat antidepresan banyak macamnya. Efek samping tiap obat pun dapat berbeda-beda bagi setiap pasien, sehingga pemilihan obat yang digunakan sangat didasarkan pada kondisi masing-masing pasien. Yuk, semakin sadar akan pentingnya memperhatikan kesehatan mental! Salam sehat! (AS)

 

Baca juga: Masih Rendah, Kepedulian Depresi di Indonesia

Tinggalkan komentar