Perawatan Bayi Prematur – GueSehat.com


Setiap orang tua mendambakan kelahiran putra-putrinya dalam keadaan sehat. Berbagai cara pun dilakukan untuk janin di dalam kandungan, mulai dari menjaga nutrisi seimbang untuk ibu dan bayi, beristirahat cukup, kontrol sesuai jadwal, serta konsumsi vitamin jika diperlukan semasa kehamilan.

 

Secara umum, bayi disebut cukup bulan untuk lahir jika sudah mencapai 37 minggu. Namun pada beberapa kondisi, bayi lahir sebelum waktunya atau sering disebut dengan kelahiran prematur.

 

Bayi prematur membutuhkan perawatan khusus dan sebagian besar perlu dirawat di ruang intensif khusus bayi (Neonatal Intensive Care Unit). Fokus perawatannya berbeda-beda pada setiap bayi, tergantung pada derajat keparahan kondisi bayi.

 

Baca juga: Mums, Waspadai Tanda-tanda Persalinan Prematur Berikut Ini!

 

Pada usia yang lebih kecil, bayi dilahirkan dalam kondisi yang kurang sempurna. Dan, setiap bayi prematur memiliki perkembangan kesehatan yang berbeda-beda. Pada bayi prematur, terdapat beberapa hal yang belum bisa dilakukannya sendiri, seperti bernapas secara spontan, refleks isapnya tidak berjalan sempurna, dan imunitasnya rentan terhadap infeksi.

 

Nah, apa saja sih hal yang perlu dilakukan pada bayi prematur?

 

1. Menggunakan Alat Bantu Napas

Salah satu masalah utama pada bayi-bayi prematur adalah masalah pada organ pernapasan. Bayi prematur, khususnya yang lahir kurang dari 34 minggu, belum memiliki paru-paru yang cukup matang untuk melakukan fungsinya sendiri.

 

Pada beberapa ibu yang memiliki faktor risiko melahirkan prematur, biasanya dievaluasi apakah perlu diberikan obat untuk membantu pematangan paru sang Janin. Alat bantu napas dapat digunakan ketika bayi lahir dan memiliki napas yang tidak adekuat.

 

Jenis-jenis alat bantu napas pun bervariasi, mulai dari alat bantu napas yang invasif maupun tidak invasif. Penggunaan alat bantu napas ini akan disesuaikan dengan respons napas bayi tersebut dan akan dilakukan weaning jika respons napas baik.

 

Baca juga: Mums, Ini Tes untuk Bayi Prematur di NICU

 

2. Evaluasi Bayi Kuning

Bayi prematur juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kuning atau yang secara medis dikenal dengan nama hiperbilirubinemia. Keadaan ini secara umum dapat dilihat, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan darah untuk menilai kadar kuning secara kuantitatif.

 

Jika perlu, bayi dapat disinar untuk membantu menurunkan kadar bilirubin dalam tubuhnya. Jika berulang, dapat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengevaluasi penyebab kuning tersebut.

 

 

3. Mengecek Kadar Gula Darah

Bayi prematur berisiko memiliki kadar gula darah yang tidak stabil dalam tubuhnya. Karenanya, biasanya akan dilakukan pengecekan kadar gula darah 1 jam setelah kelahiran untuk mengevaluasi kadar gula darah.

 

Jika perlu, pemeriksaan ini dapat diulang pada beberapa jam berikutnya. Selain pada bayi prematur, kadar gula darah yang tidak stabil juga bisa terjadi pada bayi yang memiliki berat badan lebih dari 4 kg maupun pada bayi yang lahir dari ibu dengan diabetes melitus.

 

Baca juga: Saat si Kecil Harus Dirawat di NICU

 

4. Memberikan Nutrisi dan Cairan Melalui Cairan Infus

Nutrisi dan cairan bayi prematur akan dibantu oleh cairan infus. Cairan infus ini akan disesuaikan dengan kebutuhan per hairnya.

 

5. Melakukan Pemeriksaan Darah

Pemeriksaan darah berguna untuk memberikan informasi penting tentang keadaan bayi, khususnya terkait infeksi. Jika diperlukan, bayi prematur dapat diberikan antibiotik untuk memproteksinya dari risiko infeksi.

 

6. Foto Ronsen

Foto ronsen dapat membantu mengevaluasi derajat keadaan paru pada bayi prematur.

 

7. USG

Pemeriksaan ultrasound kepala merupakan skrining yang biasa dilakukan pada bayi prematur. Salah satu penyebabnya adalah bayi prematur memiliki risiko untuk mengalami perdarahan di dalam kepala.

 

8. Pemeriksaan Mata

Pemeriksaan mata dapat dilakukan untuk melihat derajat kematangan organ mata. Pemeriksaan ini dilakukan pada usia 2-4 minggu, tergantung dari usia kelahirannya. Hal ini disebabkan bayi prematur memiliki risiko mengalami retinopati prematuritas. (AS)

 

Baca juga: Kisah Inspiratif Penderita Kebutaan Akibat Kelahiran Prematur

 

Tinggalkan komentar