Sanitasi Buruk Memicu Stunting – Guesehat


 

Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis yang berdampak pada perawakan pendek, diikuti perkembangan otak tidak maksimal. Biasanya gejala stunting sudah bisa diprediksi jika berat badan bayi tidak naik. Jika kondisi ini dibiarkan, dalam jangka panjang akan menyebabkan stunting bahkan gagal tumbuh. Ternyata tidak hanya kurang gizi, tahukah Mums bahwa sanitasi buruk memicu stunting. 

 

Selain kekurangan nutrisi, penyakit infeksi meningkatkan risiko stunting. Bayi dan anak yang sering sakit tidak akan menyerap asupan nutrisi dengan optimal. Penyakit infeksi seperti diare atau disentri dapat terjadi karena sanitasi yang buruk.

 

Namun meskipun memiliki hubungan yang erat dalam menyebabkan stunting, intervensi gizi dan dan sanitasi umumnya dilaksanakan terpisah. Perlu partisipasi berbagai pihak, untuk menyelesaikan persoalan stunting ini.

 

Baca juga: Stunting Jadi Salah Satu Fokus Perhatian dalam Pidato Visi Jokowi

 

Sanitasi Buruk Memicu Stunting

Nastional Director Habitat for Humanity Indonesia, Susanto Samsudin menjelaskan bahwa kehidupan berawal dari rumah. Sebagai organisasi nirlaba yang lama bergelut lama dalam penyediaan rumah layak huni dan rumah sejahtera, mereka banyak menemukan kondisi sanitasi buruk di daerah. Biasanya diikuti data anak kurang gizi yang juga tinggi.

 

Data menunjukkan, di Indonesia setiap 1 dari 3 anak mengalami stunting. Selain akibat kurang gizi kronis, kondisi lingkungan yang buruk membuat bayi dan balita rentan terkena infeksi.

“Sanitasi yang baik berperan penting dalam pencegahan stunting. Di masa golden periode tumbuh kembang, anak harus sehat. Lingkungan buruk membuat anak mudah sakit, misalnya diare. dan menyebabkan gangguan tumbuh kembang,” jelas Susanto dalam acara penandatanganan kerjasama dengan Herbalife Nutrition Indonesia untuk pembangunan fasilititas sanitasi sehat di Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten.

Ironisnya, 53% penduduk pedesaan saat ini tidak punya sanitasi yang layak. Mereka masih Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Di Indonesia ada sekitar 54 juta penduduk yang masih BABS, atau kedua tertinggi setelah India. BABS rentang menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air yang tercemar tinja atau Water borne illness. Misalnya diare, Hepatitis A, tifoid dan sebagainya.

 

Ditambahkan Susanto, kelihatannya sepele, menyuruh orang untuk tidak buang air besar sembarangan. Padahal tidak semudah itu. “Masalah BABS ini sangat kompleks. Banyak penyebabnya. Pertama karena tidak tersedia fasilitas berupa toilet dan air bersih. Kalaupun ada toiler biasanya tidak ada septic tank. Penyebabnya bisa karena faktor ekonomi,” ujarnya.

Penyebab lain adalah perilaku atau budaya masyarakat setempat yang memang tidak terbiasa BAB di toilet. Mereka terbiasa BAB di sungai. Pendidikan memengaruhi kebiasaan ini. Sehingga selain membangun fasilitas toilet, Habitat for Humanity Indonesia juga mengadakan edukasi tentang perilaku hidup bersih. Salah satunya dengan BAB di toilet dan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun.

 

Baca juga: Jangan Sepelekan Stunting, Ini Bukan Hanya Soal Tubuh Pendek!

 

Hibah 1,4 Miliar untuk Bangun Toilet

Karena kepedulian terhadap kondisi sanitasi buruk di Indonesia, Herbalife Nutrition Foundation (HNF) memberikan hibah sebesar 1,4 miliar untuk proyek pembangunan sanitasi di Kecamatan Mauk Tangerang. Mereka bermitra dengan Habitat for Humanity Indonesia.

 

Menurut Senior Director & General Manager Herbalife Nutrition Indonesia, Andam Dewi, pilot project yang akan dilakukan berupa pembangunan 15 personal toilet untuk 15 keluarga, satu unit fasilitas air bersih untuk 75 keluarga, 4 toilet umum untuk 60 keluarga, satu unit toilet sekolah dan edukasi pelatihan mencuci sehat bagi 200 orang.

 

Program ini akan dimulai November 2019 dan berakhir Oktober 2020. “Kami ingin membantu program pemerintah menanggulangi stunting terutama yang disebabkan karena minimnya fasilitas sanitasi dan MCK,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/10).

 

Mengapa Kabupaten Tangerang? Menurut Dewi, data di Dinkes Kabupaten Tangerang, prevalensi stunting mencapai 40% pada anak usia 2 tahun. Salah satu penyebabnya adalah perilaku hidup tidak bersih terutama dalam BAB.

 

“Ada sekitar 2.934 anak Tangerang yang malnutrisi dan sampai tahun 2019 sekitar 2.796 keluarga di Kecamatan Mauk, tidak memiliki toilet maupun sanitasi yang layak. Padahal jarak Kecamatan ini dari ibukota Jakarta hanya 1,5 jam.” ungkap Dewi.

 

Baca juga: Manfaat Zinc untuk Mengatasi Diare Anak

 

Penelitian di Kenya, Sanitasi Baik Stunting Turun

Pertumbuhan anak yang terhambat dan kebiasaan buang air besar sembarangan memang menjadi target perbaikan UNICEF. BABS menyebabkan kematian terkait diare pada anak-anak.

 

Organisasi PBB yang menangani anak-anak ini pernah melakukan penelitian di Kenya, Afrika, bertajuk Sanitation and Nutrition Intervention (SanNut). 

 

Sebagian dari 604 desa diberikan intervensi SanNut. Ternyata SanNut meningkatkan pengetahuan masyarakat setempat tentang pentingnya sanitasi dan kebersihan. Kebiasaan cuci tangan juga meningkat yang berdampak pada penurunan kasus diare dan penyakit infeksi.

 

Baca juga: Pangan Bergizi dan Terjangkau untuk Turunkan Stunting

 

 

Referensi:

https://www.idinsight.org/projects/unicef-kenya

 

Tinggalkan komentar