Tantangan Mengasuh Anak Adopsi – GueSehat.com


Ada banyak alasan pasangan memilih untuk mengadopsi anak. Di Indonesia sendiri, beberapa alasan yang kerap ditemukan adalah karena pasangan tidak kunjung dikaruniai anak, ingin menambah anak kedua, sebagai “pancingan” supaya bisa cepat hamil, serta tidak tega melihat anak dari keluarga jauh atau tetangganya terlantar.

 

Seorang wanita berinisial DW asal Wonogiri, Jawa Tengah, dan sang Suami memutuskan mengangkat seorang putra yang saat ini sudah berusia 13 bulan. Tidak kunjung dikaruniai buah hati, wanita berusia 26 tahun itu mendapatkan kesempatan untuk mengasuh anak dari kerabat jauh.

 

“Saya sudah menikah lumayan lama, yaitu 6 tahun, dan belum punya keturunan. Sudah melakukan program kehamilan, tetapi tidak ada hasilnya. Lalu, kebetulan ada yang menawarkan untuk adopsi anak,” ujarnya saat diwawancarai oleh GueSehat.

 

DW menceritakan, sang Ibu tidak siap untuk memiliki anak karena belum menikah. Daripada anak tersebut dibuang, tidak diurus, atau tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya, ia pun memutuskan untuk mengasuh sang Anak.

 

“Sebelumnya, saya berunding dulu dengan keluarga. Seandainya memutuskan untuk mengambil anak, mereka setuju tidak. Alhamdulillah, kita semua setuju.” Jadi ketika sang Anak dilahirkan, ia langsung diasuh oleh DW.

 

Harus Punya Niat yang Kuat dan Kompak

Menurut psikolog Sali Rahadi Asih, M.Psi, MGPCC, Ph.D., pasangan suami istri memang harus memiliki niat yang kuat sebelum memutuskan untuk mengadopsi anak. “Persiapan psikologis amat penting. Persiapan ini adalah bagaimana pasangan suami istri sudah siap menjadi orang tua. Intinya, suami dan istri harus sepakat apa alasan mereka untuk mengadopsi anak,” ujar dosen bidang studi Psikologi Klinis, FPsi UI, ini ketika diwawancarai oleh GueSehat.com.

 

Jika hanya salah seorang yang ingin mengadopsi anak padahal pasangannya tidak terlalu menginginkannya, sebaiknya pikirkan kembali keinginan untuk mengadopsi anak. Pasalnya bila tetap dilakukan, hal tersebut dapat menimbulkan konflik di kemudian hari.

 

Jika sudah mantap, maka pasangan perlu memberi tahu kepada keluarga besar terkait keputusan besar ini. Sangat mungkin keluarga besar akan bertanya, ujar Sali, tetapi tujuan mereka sebenarnya butuh diyakinkan apakah pasangan tersebut tahu apa yang dilakukan dan bisa mempertanggungjawabkan alasannya. Namun jika pasangan memiliki niat yang mantap, kemungkinan besar keluarga akan setuju, seperti yang dialami oleh DW.

 

Samakah Membangun Bonding antara Anak Adopsi dengan Anak Kandung?

Apakah benar stigma terkait kedekatan antara orang tua dan anak kandung akan berbeda dengan antara orang tua dan anak adopsi? Menanggapi hal ini, Sali menjawab pada beberapa kasus bisa sama atau berbeda.

 

Attachment (kedekatan) itu harus dipupuk. Tidak hanya dengan anak adopsi, dengan anak kandung pun harus dipupuk. Dalam artian, pada saat anak memang butuh sesuatu, orang tuanya bisa menyediakannya.”

 

Kebutuhan psikologis, primer, dan rasa aman harus diberikan oleh orang tua. Anak adopsi pun harus diberikan pemahaman bahwa sekarang ini ia dan orang tuanya menjadi satu keluarga yang saling menyayangi, bertanggung jawab akan satu sama lain, dan bisa bergantung dengan orang tuanya.

 

“Saya bertemu beberapa kasus beberapa orang tua sudah memiliki anak, lalu setelah beberapa lama mengangkat anak. Kebetulan, anak yang diangkat jauh lebih penurut. Jadi, (orang tua) lebih dekat dengan anak adopsinya,” tambah Sali.

 

Perlukah Anak Diberi Tahu tentang Orang Tua Kandungnya?

Topik ini tentu sangat sensitif bagi para orang tua adopsi, salah satunya bagi DW. Ia sebenarnya ingin sang Anak tidak perlu mengetahui tentang orang tua kandungnya. Namun, rasanya hal tersebut tidak mungkin terjadi karena dalam akta lahir sang Anak terdapat nama orang tua kandungnya.

 

Namun, apakah anak memang perlu diberi tahu masalah ini? Menurut Sali, semuanya kembali lagi ke nilai-nilai keluarga dan nilai-nilai kepercayaan yang dianut. Yang pasti, perlu dilihat kesiapan orang tua maupun sang Anak sebelum membicarakan tentang orang tua kandungnya.

 

Kalau tiba-tiba anak bertanya mengenai hal ini, orang tua bisa menanyakan lebih lanjut mengapa ia tiba-tiba menanyakannya. Tanyakan apa yang ia rasakan dan apa yang ia dengar. Jika dirasa itu adalah waktu yang tepat, maka orang tua bisa mengatakannya kepada anak.

 

“Anak bisa ditanya, mau dikenalkan dengan orang tua kandungnya atau tidak. Kalau anak memang belum siap, tidak bisa dipaksa. Kalau sudah siap, itu bisa dilakukan. Tapi kalau ada keluarga yang merasa anak harus tahu akarnya, ya silakan. Justru akan lebih natural. Jadi tergantung kesiapan orang tuanya. Orang tua adopsinya siap tidak kalau orang tua kandungnya mau ketemu. Itu harus dibicarakan,” jelas Sali.

 

Untuk mencegah anak mendengar komentar-komentar negatif terkait statusnya sebagai anak adopsi, Sali menyarankan agar orang tua membangun kedekatan yang kuat dengan anak sejak dini. Jadi ketika dihadapkan pada situasi yang buruk sekalipun, ia tetap yakin bahwa orang tuanya sayang kepadanya dan tetap merasa aman. (AS)

 

 

Tinggalkan komentar