Tiga Kasus Obesitas Ekstrem di Karawang yang Mematikan



Karawang – Kematian Satia Putra (7), bocah seberat 110 Kg asal Karawang menambah daftar panjang penderita obesitas yang meninggal. Di Karawang, Satia adalah penderita obesitas ketiga yang meninggal dalam 3 tahun terakhir.

“Kasus Satia termasuk kasus obesitas yang mengemuka di Karawang. Dalam tiga tahun terakhir, setidaknya ada empat kasus obesitas ekstrem yang kita temui,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang Nurdin Hasanudin kepada detik, via telepon Minggu (29/9/2019).

Nurdin tak memegang data pasti jumlah penderita obesitas di Karawang. Namun, setidaknya ada 4 penderita obesitas yang pernah ditangani RSUD Karawang. Satu penderita berhasil memperbaiki kondisinya, namun tiga meninggal.


Berikut cerita mereka yang jadi korban obesitas di Karawang:

1.Yudi Hermanto

Berat badan pria asal Telukjambe ini awalnya ideal, namun mulai naik pada tahun 2015. Saat itu, dia bekerja sebagai petugas sekuriti di perusahaan katering terkemuka di Karawang. Yudi yang selalu bertugas malam hari, kerap diberi sisa makanan katering oleh sopir mobil catering.

Setelah bekerja selama setahun sebagai sekuriti, berat badannya mencapai 110 Kg. Ia pun berhenti bekerja pada pertengahan tahun 2016. Sejak saat itu ia pun menganggur. Di waktu mengganggur, kebiasaan makan Yudi semakin tidak terkontrol. Setiap hari, Yudi menghabiskan waktu dengan menonton TV dan makan. Dalam satu tahun, beratnya naik menjadi 200 Kg.

Pada pertengahan 2017, bobot Yudi makin bertambah. Hal itu membuat ia kesulitan berjalan, nafasnya pun kerap sesak. Akhirnya ia meninggal pada (10/12/2017). Yudi mengalami gagal jantung. Bobot tubuhnya mencapai 310 Kg.

2.Sunarti

Sunarti sempat menjalani operasi bariatrik atau memperkecil ukuran lambung pada Senin (18/2/2019). Namun beberapa pekan kemudian, Sunarti meninggal dunia.

Awalnya bobot Sunarti 60 kilogram. Namun karena tinggal berjauhan dengan suaminya, pola makan Sunarti tak terkontrol. Dalam sehari, Sunarti bisa 7 kali makan. Setiap pagi dan sore, ia kerap menghabiskan dua piring nasi dan lauk pauk. Sementara siang dan malam, ia bisa menghabiskan 5 mangkuk bakso atau mie.

Pelan-pelan, bobot Sunarti naik hingga 148 kilogram. Akibat bobot tubuhnya, Sunarti sekali tak bisa berjalan, kakinya tak kuat menopang badannya.

3.Satia Putra

Orang tua Satia Putra kerap kebingungan setiap bocah itu minta makan. Sebab, meski sudah banyak makan, bocah itu bisa marah jika tak disediakan makanan pada tengah malam. “Setiap jam 12 malam dia sering minta makan. Kalau enggak dikasih marah-marah,” ucap Sarli, ayah kandung Satia.

Satia juga jarang olahraga. Setiap hari, ia duduk sambil main ponsel di warung makan milik orang tuanya. Pelan-pelan bobor tubuhnya naik hingga 97 Kg.

Sejumlah masyarakat yang khawatir dengan keadaan Satia kemudian melapor ke Dinas Kesehatan Karawang. Paramedis Satia kemudian memeriksa kesehatan bocah itu. Pemeriksaan lanjutan dilakukan di RSUD Karawang. Diperiksa sejumlah dokter organ dalam, Satia dinyatakan sehat.

Untuk menurunkan nafsu makan bocah itu, dokter menyarankan operasi penyempitan lambung. Namun Sarli dan Komariah, orang tua Satia, menolak karena tak tega.

Beberapa bulan kemudian, bobot tubuh Satia tetap naik. Gangguan pernafasan pun mulai dirasakan bocah tujuh tahun itu. Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan, diketahui jika Satia mengidap asma. Pada Sabtu malam (28/9/2019), Satia meninggal di rumahnya.

Masalah Obesitas harus disikapi lebih serius oleh masyarakat dan pemerintah. Sebab, kasusnya makin meningkat. Hal ini menjadi tantangan dalam mencegah penyakit kronis.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat angka obesitas mengalami peningkatan dari 14,8 persen pada catatan 2013 menjadi 21,8 persen di 2018. Angka ini terus beranjak sejak Riskesdas 2009.
Kenaikan kasua obesitas juga diimbangi dengan peningkatan jumlah penderita penyakit tidak menular (PTM).

Simak Video “5 Kebiasaan di Pagi Hari untuk Cegah Kegemukan
[Gambas:Video 20detik]
(tro/tro)

Tinggalkan komentar